Monday, 5 April 2010

5 Sifat Ego : Rasakan, Kendalikan

Oleh : Supardi Lee, Trainer Independen

Perjalanan ke dalam diri harus melalui proses mengenali ego. Proses ini penting agar ego tak bisa mengendalikan jiwa yang bersih dan bebas. Tidak kendalikan ego sebabkan keburukan luar biasa. Keburukan untuk diri sendiri, orang lain, masyarakat, banga, bahkan kemanusiaan. Kemajuan yang diraih manusia sesungguhnya adalah jalan pada kehancuran selama kemajuan itu dikendalikan ego.
Karenanya sangat penting kenali ego. Ketahui dan rasakan sang ego bekerja. Amati segala gerak-geriknya. Dengan begitu, kita bisa kendalikan ego.

Sifat-sifat dasar ego ada lima

Pertama, ego senang akan kenikmatan saat ini juga. Ia tidak sabaran. Bila ada sebuah kenikmatan di depan mata, segera ia lakukan. Ia tak peduli apakah kenikmatan tersebut melanggar aturan yang ia yakini kebenarannya. Ia tak peduli meskipun kenikmatan tersebut merugikan dan menyakiti orang lain. Ia tak peduli meskipun kenikmatan tersebut membuatnya menelantarkan keharusannya. Maka banyak orang bisa terus facebookan meski sebenarnya mereka harus menyelesaikan tugasnya. Banyak anak muda mencandu pornografi meski itu melanggar aturan agama. Kenikmatan menuruti ego terebut dinilai lebih besar, lebih berarti dibanding ketaatan pada aturan.

Kedua, ego tidak senang atas penderitaan saat ini. akibatnya, sang ego tak keberatan menanggung penderitaan di masa depan yang jauh lebih besar. Ia nekat menukar kenikmatan kecil saat sekarang dengan penderitaan besar kelak kemudian hari. Maka banyak orang yang nekat tidak diet dan tidak olahraga meski badannya sudah kegemukan dan penyakitan. Penderitaan diet dan olahraga tak bisa ditanggung oleh sang ego. Perokok terus saja merokok meski tahu kebiasaan itu merusak tubuhnya. Mereka berpikir berhenti merokok itu terlalu berat penderitaannya.

Ketiga, ego terikat kuat pada hal-hal material. Menurut ego, hal-hal material adalah yang terpenting dalam hidup. Maka uang, harta, benda-benda, popularitas, jabatan, gelar menjadi tujuan hidup. Orang yang dikendalikan ego, eksistensi dirinya tergantung hal-hal material tadi. Maka seorang ulama akan marah besar bila ke-ulama-annya tidak dianggap. Pejabat mejadi murka bila disamakan dengan rakyat biasa. Artis-artis akan stress berat bila popularitasnya hilang. Orang kaya akan bunuh diri bila kekayaannya lenyap.
Keempat, ego sangat senang membandingkan dirinya dengan orang lain. Dengan begitu, orang-orang yang dikendalikan ego akan terus merasa lebih hebat atau lebih buruk dari orang lain. Bila hartanya lebih banyak, ia akan sombong karena merasa lebih hebat. Bila ia tak punya jabatan, ia akan merasa lebih buruk, minder, merasa kecil di hadapan orang yang punya jabatan. Ego sangat senang atas perbedaan. Merasa sama dengan orang lain adalah musuh ego.

Kelima, ego itu punya kecerdasan tingkat tinggi. Ia bisa menari di irama gendang apapun. Bersama orang miskin ia senang. Bersama orang kaya ia gembira. Ego bisa membutakan mata orang bodoh. Ego juga bisa mengecoh orang berilmu. Ego mampu menelikung orang tak beriman. Ego juga mampu menipu orang beriman. Makin tinggi ilmu, pengalaman dan keimanan seseorang, makin tinggi dan makin halus lah eg mempengaruhi. Kita mungkin bisa lepas dari jeratan ego untuk malas, tapi bisa kah kita lepas dari jeratan ego untuk sombong? Dari sombong bisa lepas, tapi selalu berhasil kah kita melepas jebakan ego untuk merasa lebih hebat (ujub)?

Ego bekerja hebat di dalam kegelapan. Ia tak berdaya dalam cahaya. Cahaya itu bernama kesadaran. Sudahkah kita sadar setiap saat?

No comments:

Post a Comment