Friday, 31 March 2017

Surat

Beberapa hari terakhir ini rekan-rekan di kantor lagi keranjingan muter lagu “Surat Cinta untuk Starla” dari Virgoun. Tapi kalau playlist pribadi gue sih lagi seneng muter lagunya Jaz yang "Kasmaran" *gak nanya*. Tapi emang bagus sih lagu si surat cinta itu, walaupun di penggalan kalimat suratnya yang berbunyi “Bahwa cinta masih berkuasa diatas segalanya” sontak bikin gue nyeletuk “pret!” yang kemudian dilanjut celetukan “tetep aja minta uang belanja da cinta doang mah gak cukup” ujar salah satu teman yang sudah jadi bapak-bapak, ahahaha XD

Kalau kata temen gue, lagu ini dalem banget kayak sumur. Dan ini lagu terus aja dia repeat selama masih belum bosen, lol lol.

Denger lagu ini, gue jadi inget dulu pernah baca puisi salah satu temen fesbuk tentang surat cinta satu perpustakaan penuh. Gue agak lupa-lupa inget sih gimana isinya, tapi singkatnya, coba bayangin kalau ada surat cinta satu perpustakaan penuh dan isi surat itu semuanya tentang lo, tentang cinta pertama lo, tentang segala apapun yang lo alami, rasakan, yang benar-benar ter-observe sama si penulis surat *dan lo gak pernah tau*. So swit tapi rada-rada bikin merinding, hahaha..


Kalau sebanyak ini isinya surat buat kamu ...
Taken from here
Biarpun begitu, bagi gue surat itu benar-benar irreplaceable, gak akan tergantikan walaupun jaman udah secanggih ini. Ya, paling-paling ada perubahan dari yang tadinya ditulis pakai pena, kemudian diketik pakai mesin tik, terus sekarang jadi diketik pakai keyboard qwerty. Meskipun teteppp, handwriting letter never goes out of style

Makanya mungkin aja itu salah satu alasan kenapa orang tua tulisannya pada bagus, karena ya dulu selalu dibiasakan untuk menulis terus-menerus. Nggak heran kalau surat sampe jadi tema lagu-lagu yang hits, kayak lagu Vina Panduwinata tentang surat cinta pertama yang bikin hati doi meronta ataupun lagu Please Mr. Postman yang sampai ada 4 versi karena dinyanyikan sama The Marvelettes, The Beatles, The Carpenters, sampai The Saturday.

Melalui surat, kita bisa lebih bebas mengungkapkan perasaan atau mengekspresikan emosi apapun. Apapun karakter orangnya, mau termasuk introvert, extrovert, ambivert, semuanya setara di mata surat (?) hahaha... Pokoknya beda aja deh kalau sama ngomong langsung mah! Soalnya kan kalau ngomong langsung tuh kadang suka ‘kagok’ apa gimana gitu loh, beda halnya kalau ditulis dalam surat sih bisa lebih leluasa menyampaikannya.


The art of letter
Taken from here
Tapi yang paling penting, surat itu harus sampai ke orang yang dituju dan ... orang itu harus baca, hahaha.. Karena ya sayang dongs kalau sudah ditulis sepenuh hati, dikasihkan, tapi si itunya gak suka baca :v pokoknya yang penting maksud kita bisa tersampaikan. Perkara dibales atau nggak sih urusan belakangan~

Overall, gue sebagai perempuan melankolis rada romantis ini sangat suka surat atau pengungkapan perasaan atau pengeskpresian emosi melalui tulisan. Makanya gue selalu senang sama yang suka baca dan nulis, daripada banyak omong gak jelas mending perbanyak nulis. Soalnya kan tong kosong nyaring bunyinya, bener gak? Walaupun gue juga proporsi rumpi masih sedikit lebih besar sih daripada nulis, zzz -_-

Mungkin itu juga kenapa Cinta gagal move on dari Rangga walaupun udah tunangan sama Trian yang tajir, karena Rangga nggak banyak omong dan selalu sanggup bikin hati Cinta luluh terutama melalui tulisan soalnya romantis, hahaha.

Tapi keromantisan tersebut tidak berlaku untuk surat masuk dan surat keluar yang harus dipilah sesuai jenisnya, lol, jadi ini buah ke-haro-an gue karena harus mulai memilah arsip-arsip surat, demi kearsipan kampus yang lebih baik! Duh! -________-


Pilah-pilah~
Taken from here

0 comments:

Post a Comment